Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini adalah Bertengger di area Rp16.501/USD

JAKARTA – Angka tukar rupiah pada perdagangan hari ini ditutup melemah 16,5 poin atau 0,10% ke level Rp16.501 per dolar Amerika Serikat setelahnya sebelumnya terjadi depresiasi. Pelemahan kurs rupiah juga sejalan dengan sentimen global serta domestik.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah salah satunya dari Dolar pulih dari kerugian pasca-Fed oleh sebab itu lingkungan ekonomi semakin yakin bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tambahan tinggi untuk waktu yang lebih banyak lama tahun ini, bahkan ketika mempertahankan proyeksi pemotongan 50 basis poin pada tahun 2025.
“Pasar terlihat memperkirakan lebih tinggi sedikit prospek suku bunga turun di waktu dekat, teristimewa dikarenakan Fed tak mengubah suku bunga minggu ini,” tulis Ibrahim di risetnya, Hari Jumat (21/3/2025).
Data klaim pengangguran juga menunjukkan ketahanan dalam bursa tenaga kerja, yang mana merupakan salah satu pertimbangan Fed untuk pemotongan suku bunga. Selain itu, para penjual sebagian besar mengabaikan seruan berulang Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar Fed memangkas suku bunga. Trump pada hari Kamis mengungkapkan “akan sangat bagus” apabila Fed segera memangkas suku bunga.
Bank sentral bukan mengisyaratkan niat seperti itu selama pertemuannya baru-baru ini, menandai meningkatnya ketidakpastian melawan ekonomi, tarif Trump, serta jalur inflasi. Fed juga meninggal perkiraan pemuaian 2025 dan juga memangkas prospek pertumbuhannya.
Departemen Keuangan Amerika Serikat pada hari Kamis mengumumkan sanksi baru terkait Iran, yang tersebut untuk pertama kalinya berusaha mencapai kilang minyak independen Tiongkok dalam antara entitas lalu kapal lain yang digunakan terlibat di memasok minyak mentah Iran ke Tiongkok.
Sanksi yang disebutkan merupakan putaran keempat yang digunakan dijatuhkan Washington terhadap Iran sejak Presiden Negeri Paman Sam Donald Trump pada bulan Februari berjanji untuk memberlakukan kembali kampanye “tekanan maksimum” terhadap Teheran, dengan berjanji untuk menekan ekspor minyak negara yang disebutkan hingga mencapai titik nol.
Dari sentimen domestik, Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Pihak yang Berinvestasi Service menetapkan peringkat kredit atau sovereign credit rating atau SCR Indonesia pada level Baa2 dengan outlook stabil. Lembaga pemeringkat Moody’s menilai dunia usaha Indonesia masih resilien didukung oleh peningkatan dunia usaha yang tersebut stabil lalu solid juga kredibilitas kebijakan moneter lalu fiskal yang mana terjaga.
Moody’s menilai bahwa permintaan domestik yang dimaksud kuat khususnya dari konsumsi rumah tangga dan juga penanaman modal menjadi pendorong perkembangan kegiatan ekonomi Indonesia tahun 2025 dan juga 2026. Keberlanjutan kebijakan untuk menyokong daya saing sektor manufaktur kemudian komoditas juga dinilai berkontribusi positif bagi perkembangan sektor ekonomi lalu tingkat pendapatan yang mana lebih lanjut tinggi lalu berkelanjutan.






