Jokowi Ingatkan Militer Masuki Generasi Perang ke-5, Ancaman Siber Bisa Lumpuhkan Defense Negara
Jakarta – Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengingatkan bahwa pada waktu ini bidang militer sudah ada memasuki generasi peperangan ke-5. Jokowi meyoroti aksi militer non-kinetik yang mana sanggup melumpuhkan pertahanan negara.
Jokowi menyatakan ini pada waktu menyampaikan amanat pada Upacara Prasetya Perwira di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 16 Juli 2024. Eks Pengurus DKI Jakarta menyampaikan instruksi itu terhadap 906 perwira TNI-Polri yang digunakan dilantik pagi ini.
Awalnya, Jokowi mengingatkan ilmu pengetahuan juga tekologi tumbuh ketika ini sangat tumbuh pesat. Disrupsi, kata dia, terus berlangsung. Revolusi Industri 4.0 juga Society 5.0 menyebabkan digitalisasi otomasi, kecerdasan buatan, hingga peperangan dagang lalu ketegan geopolitik yang digunakan tak terhindarkan.
“Di bidang pertahanan misalnya kita berada ke generasi yang digunakan ke-5, tiada semata-mata pertempuran fisik tapi juga aksi militer non-kinetik, dan juga konflik siber yang tersebut dapat melumpuhkan fungsi keamanan pertahanan lalu pelayanan publik,” kata Jokowi.
Bekas Wali Perkotaan Solo itu juga menyoroti pembaharuan iklim juga transisi energi yang berada dalam muncul ketika ini. Begitu juga bidang penegakan hukum.
“Ketertiban keamanan, kejagatan transnasional, judi online, perdagangan orang, narkotika dan juga medikasi terlarang, dan juga peretasan siber yang dimaksud ketika ini juga makin canggih,” katanya.
Melihat kompleksitas perkembangan zaman, Jokowi memohonkan perwira TNI-Polri yang tersebut baru dilantik bermetamorfosis menjadi sosok yang digunakan bisa jadi beradaptasi dengan capat. Termasuk mempelajari perkembangan mutakhir teknologi digital juga kecerdasan buatan.
Para perwira yang dilantik oleh Presiden, terdiri melawan 417 Capaja Akademi Militer (Akmil), 129 Capaja Akademi TNI AL (AAL). Berikutnya 113 Capaja Akademi TNI AU (AAU), serta 247 Capaja Akademi Kepolisian (Akpol).
Pesan Jokowi ini muncul di sedang kritik rakyat beberapa pekan ini mengenai rentannya Pusat Informasi Nasional (PDN). PDN, yang digunakan dikelola oleh Kemenkominfo lalu BSSN, diretas sejak 20 Juni 2024, oleh Ransomware LockBit 3.0.
Ransomware merupakan istilah jenis malware yang menyerang sistem data. Pusat Informasi Nasional Sementara yang tersebut ada pada Surabaya itu mengatur 73 data kementerian lembaga juga beratus-ratus milik pemerintah daerah.
Pemerintah pada waktu ini masih terus berupaya memulihkan PDN yang dimaksud diretas. Menteri Koordinator Lingkup Politik Hukum kemudian Ketenteraman Hadi Tjahjanto, melalui penjelasan tertulis, 12 Juli 2024, menyampaikan pemulihan layanan pada PDNS 2 telah terjadi bertambah berubah jadi 86 layanan, yang dimaksud berasal dari 16 tenant.
Pemerintah menerapkan strategi jangka pendek, menengah, kemudian panjang untuk memulihkan layanan umum yang dimaksud terdampak peretasan PDN. Langak ini satu di antaranya pengauditan pusat data nasional itu akan dijalankan oleh pihak ketiga yang independen. Strategi yang disebutkan baru akan dijalankan pada September, dengan target penerapan hasil audit direalisasikan paling lama November 2024.
Artikel ini disadur dari Jokowi Ingatkan Militer Masuki Generasi Perang ke-5, Ancaman Siber Bisa Lumpuhkan Pertahanan Negara





