Dihantui Tarif AS, Rupiah Terancam Tembus Rp17.000 – IHSG Rontok

JAKARTA – Skor tukar rupiah diperkirakan akan mengalami tekanan hebat dan juga berpotensi melemah menembus level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (USD) pada pekan depan. Hal ini dipicu oleh kebijakan tarif impor resiprokal yang dimaksud diterapkan Amerika Serikat (AS) pada 2 April 2025, yang digunakan juga berdampak pada Indonesia.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, kebijakan tarif impor Amerika Serikat sebesar 32 persen ini akan memicu kenaikan harga jual emas dunia serta meningkatkan tensi geopolitik global. Ketegangan geopolitik yang digunakan dimaksud mencakup konflik di area Timur Tengah, ancaman Amerika Serikat terhadap Iran terkait inisiatif nuklirnya, dan juga kemungkinan konflik kembali antara Rusia kemudian Ukraina. Kondisi ini memperburuk sentimen bursa serta menekan nilai tukar rupiah.
“Dalam pertempuran dagang ini menciptakan mata uang rupiah kembali melakukan pelemahan kemudian kemungkinan besar di minggu-minggu ini pengaktifan bursa level Rp16.900 kemungkinan besar akan terjadi. Ada kemungkinan besar akan pecah telur juga di area Rp17.000 (per USD), ini harus berhati-hati,” kata Ibrahim pada keterangannya, Kamis (3/4/2025).
Dampak dari peperangan dagang ini menurutnya juga diperkirakan akan memukul Skala Harga Saham Gabungan (IHSG). Ibrahim memprediksi IHSG akan mengalami penurunan 2-3 persen pada perdagangan Hari Senin pekan depan. “Karena dampak dari konflik dagang ini cukup luar biasa apalagi Indonesia sudah ada masuk pada biaya impor dari Amerika,” ungkap Ibrahim.
Untuk mengatasi dampak negatif ini, Ibrahim merekomendasikan beberapa langkah yang perlu diambil pemerintah seperti harus menerapkan tarif impor yang tersebut serupa terhadap hasil AS, yaitu 32 persen, segera mencari lingkungan ekonomi ekspor baru, memanfaatkan keanggotaan Indonesia pada BRICS, perlu menggelontorkan stimulus untuk menanggulangi dampak konflik dagang.
Terakhir, menurut Ibrahim Bank Indonesia (BI) harus berpartisipasi melakukan intervensi pada lingkungan ekonomi valuta asing serta obligasi untuk menstabilkan rupiah. “Ini yang mana harus dijalankan oleh pemerintah sehingga apa? Sehingga sekalipun Amerika melakukan konflik dagang terhadap Indonesia, Indonesia telah siap untuk melakukan perlawanan balik,” pungkas Ibrahim.





